Mohon di Baca

Apabila ada yang kesulitan ketika men-DOWNLOAD file, bisa request via email ke muhamad.haidir@gmail.com.

Selasa, 22 September 2015

Buku Cerita Anak - Kisah Sahabat Kecil Kita Si Semut


Teman-teman pengunjung Blog Syabil,

Tahukah kalian bagainmana terampil dan cerdasnya binatang yang bernama Semut?

Karena hanpir seriap hari dapat kita temui; di rumah, di sekolah, di jalan dikantin, d, lapangan sepak bola dan di banyak tempat lain, diantara kalian mungkin berfikir meraka adalah seekor serangga yang tidak istimewa. Namun nampaknya pandangan kalian itu harus siap-siap berubah manakala mengikuti petualangan Umar yang dikisahkan dalam buku ini.

DOWNLOAD


Sumber:  harunyahya.com


Kamis, 17 September 2015

Buku Cerita Anak Muslim 1 dan 2


Kali ini Syabil mau bagi-bagi buku cerita untuk Anak Muslim yang dibagi menjadi 2 buku dalam bentuk PDF. Menurut Syabil buku ceritanya bagus tapi jangan berharap banyak akan tampilan buku ceritanya ya, karena bukunya sangat sederhana hanya berupa cerita dalam bentuk teks tanpa ada sisipan gambar-gambar. Biasanya anak-anak lebih suka dengan buku cerita yang bergambar. So, nikmatin aja buku ceritanya sambil ditemani oleh Ayah/Bunda (Pegel-pegel dah bacain ceritanya...Wkwkwkwk).

Seluruh buku penulis menjelaskan isu-isu keimanan dalam ayat-ayat Al Quran. Penulis mengundang pembaca untuk mempelajari firman-firman Allah dan melaksanakannya dalam kehidupan.  Seluruh topik berkenaan dengan ayat-ayat Allah dijelaskan sedemikian rupa hingga tidak menyisakan keraguan atau ruang untuk bertanya-tanya dalam benak pembaca. Kesungguhan buku-buku ini, kesederhanaan dan gaya yang fasih, menjamin bahwa siapa pun, berapapun umurnya, apapun kelompok sosialnya, dapat memahami isi buku dengan mudah. Berkat narasi yang efektif dan jelas, buku-buku ini dapat dibaca dalam sekali duduk Bahkan, mereka yang bersikeras menolak spiritualitas, akan  dipengaruhi oleh fakta-fakta yang didokumentasikan buku-buku ini, dan tak dapat menyangkal kebenaran isinya.

DOWNLOAD

Sumber:  harunyahya.com

Kamis, 03 September 2015

Bagaimana Cara Melatih Si Kecil Untuk Tidur Sendiri?, Ini Tipsnya


Ketika masih bayi umumnya anak biasanya memang tidur satu kamar dengan orang tuanya, tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan umur si anak sudah cukup besar maka orang tua biasanya ingin melatih si kecil untuk tidur sendiri di kamarnya. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah sebenarnuya umur berapa anak bisa mulai dilatih untuk tidur terpisah dengan orang tua?

Sebenarnya tidak ada suatu ketentuan yang pasti mengenai kapan waktu yang tepat untuk membiasakan anak untuk tidur sendiri, beberapa orang tua ada yang sudah melatihnya sejak lahir, dan ada juga yang selalu tidur bersama orang tua sejak lahir. Tentunya hal ini semua tergantung pada kebiasaan yang ada pada keluarga tersebut, Namun pada umumnya biasanya usia yang pas untuk melatih anak untuk tidur sendiri adalah pada saat anak sudah berumur 2 tahun.

Melatih anak untuk tidur terpisah sebaiknya Anda lakukan secara perlahan, dan perhatikan juga apakah anak bisa tidur dengan pulas tanpa terbangun di malam hari untuk mencari orang tua. Jika anak sudah tidak terbangun mencari orang tua pada malam hari hal itu menandakan bahwa si anak sudah siap untuk tidur sendiri.

Anda juga harus meyakinkan si anak bahwa tidur sendiri itu tidaklah menyeramkan. Ajak sang anak untuk menghias kamar tidurnya sesuai dengan keinginannya. Lalu selalu jelaskan bahwa walaupun ia tidur terpisah, ia dapat memanggil Anda jika dibutuhkan.

Hal yang paling penting dan harus dipastikan adalah keamanan anak tetap harus terjaga. Selalu cek dan pastikan tidak ada benda tajam yang dapat melukai anak. Atur segala macam kabel listrik dan segala sesuatu yang bisa mengakibatkan kecelakaan, dan jika bisa lokasi kamar si Anak sebaiknya tidak terlalu jauh dengan kamar orang tua sehingga jika terjadi sesuatu orang tua bisa merespon dengan cepat.

Sumber: niagasehat.com

Selasa, 01 September 2015

Mengenalkan Ibadah Haji & Umrah kepada Anak dengan Kartu Haji



Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji, Alhamdulillah sebuah buku kecil untuk muslim kecil 'Mengenal Ibadah Haji dan Umrah' kini dapat Ayah/Bunda berikan kepada anak-anak tercintanya. Buku kecil ini dimaksudkan untuk mengenalkan kepada anak-anak mengenai tata cara ibadah haji secara singkat. 

Dengan buku ini dapat kamu buat di atas kertas 2 lembar kertas karton berukuran folio (F4) secara timal bali, yang kemudian dilipat menyerupai buku tulis. Di dalamnya berisi kantung-kantung yang menunjukkan hari dan tanggal pelaksanaan ibadah haji, beserta kartu-kartu mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan oleh jama'ah haji pada hari itu.

Semoga bermanfaat teman-teman pengunjung Blog Syabil yang akan ikut Manasik Haji di Sekolah PAUD/TK.

Silahkan Download buku kecil Tata Cara Ibadah Haji untuk Anak di bawah ini:
 DOWNLOAD

Sumber: http://bam.raudhatulmuhibbin.org

Minggu, 11 Januari 2015

Ebook Kumpulan Doa-Do'a Anak Shaleh


E-Book berikut ini merupakan kumpulan doa-doa pilihan sesuai Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk diajarkan kepada ana-anak. Berisi lebih dari 20 doa sehari-hari yang disertai ilustrasi untuk menarik perhatian anak.

Apabila Ayah/Bunda mau berkreasi, bisa juga masing-masing Do'a di print berwarna, kemudian digunting, lalu dilaminating supaya terlihat lebih bagus. Misalnya untuk Do'a Berpakaian, bisa di tempelkan di pintu lemari anak, Do'a hendak tidur bisa ditempelkan di dinding yg terdekat dengan kasur anak.

Semoga bermanfaat...

Download Ebook Kumpulan Doa-Do'a Anak Shaleh


Sumber: http://bam.raudhatulmuhibbin.org

Sabtu, 03 Januari 2015

Menyikapi Anak yang sedang Ngambek


Assalamualaikum..salam cerdas kreatif,

Sebagai orang tua, apa yang akan kita lakukan???, bila tiba-tiba anak anda ngambek gara-gara ingin mendapatkan suatu barang yang diinginkannya tidak terpenuhi. Mungkin perasaan anda tidak enak karena pasti orang akan mengira anda tidak becus mengurus anak. Daripada ribut, akhirnya Anda pun mengalah, meluluskan permintaan si kecil.

Menurut psikolog anak, Dr. Seto Mulyadi, orangtua tak perlu malu bila anaknya tiba-tiba bertingkah tak menyenangkan di depan umum. Toh, orang lain pun tahu kalau ini bukan masalah orangtua, tapi masalah anak-anak. “Justru yang perlu diupayakan adalah menenangkan si anak agar tak lebih lama mengganggu ketenangan umum. Dengan tegas, angkatlah ia dan ajak pulang. Pengalaman saya, tatap mata anak dan ajak ia pulang. Jangan tatap anak dengan kesal atau memelototinya, ia akan tahu itu dan akan makin keras mengamuk,” terang Doktor Psikologi lulusan Program Pasca Sarjana UI ini. Kata Seto, lebih baik tatap mata si anak dengan penuh kasih. Ia akan mengerti, ibu atau ayahnya tetap menyayanginya dan permintaannya bisa dibicarakan di rumah.

JADI SENJATA
Yang jelas, wajar jika anak kecil gampang meledak atau ngambek. Terlebih anak usia di atas 2 tahun. Saat itu ia sudah dapat mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau kecemasannya. “Untuk anak yang berusia di bawah 2 tahun, sangat gampang mengalihkannya. Misalnya saat ia ngambek, kita tunjukkan cicak di dinding. Atau tunjukkan ia gambar,” bilang Seto. Lain hal dengan anak usia 2 tahun di mana egonya mulai tumbuh. Ia ingin orang lain mengakui keberadaannya. Dengan cara diam, tak mau berpartisipasi atau berguling- guling, ia ingin orang lain mengerti akan kehadiran “aku”-nya yang baru. Ia pun sangat mementingkan diri sendiri. Apa yang diinginkannya harus dituruti segera dan saat itu juga.
Celakanya, jika perilaku tak baik ini tak ditanggulangi dengan baik, maka akan terus berkembang hingga dewasa. “Itu sebabnya ngambek harus diwaspadai sebagai cikal-bakal berbagai tingkah negatif setelah dewasa kelak. Bisa saja kalau keinginannya tak terpenuhi, lantas minggat dari rumah,” jelas Seto.
Apalagi, anak belajar dari lingkungan. Ia akan belajar bagaimana lingkungan meresponnya. Kalau ia ngambek lalu orangtuanya menuruti kehendaknya, maka ngambek akan dijadikan senjata untuk menarik perhatian “kekuasaan” atau orangtua. Dan tingkat ngambeknya juga akan terus meningkat. Beda jika ia ngambek, masalahnya dicoba dipecahkan. Alhasil, ia tak bisa menggunakan hal itu sebagai senjata. Dengan demikian, jika ia menginginkan sesuatu, ia tak akan ngambek, tapi mengacu pada sistem.

UNGKAPAN PROTES
Yang biasanya terjadi, anak ngambek untuk mengungkapkan protesnya atas kesewenangan orangtua. Terutama pada keluarga yang komunikasinya kurang efektif. Entah karena ayah-ibu yang terlalu sibuk sehingga perhatian pada si kecil sangat kurang, atau karena orangtua terlalu otoriter dan mau menang sendiri. Orangtua selalu memaksakan kehendaknya, sehingga tak pernah mendengar hati nurani anak. “Nah, anak akan merasa diperlakukan tak adil!” tukas Seto. Misalnya saja, pada saat anak minta mainan, orangtua langsung bilang, “Tidak! Mainan kamu sudah terlalu banyak!”
Padahal mungkin saja mainan yang banyak itu dibeli atas inisiatif orangtuanya yang saat membeli, suasana hatinya sedang senang, uang lagi banyak. Padahal, bisa saja si anak sebenarnya sedang tak butuh mainan. Nah, giliran ia memerlukan, justru orangtua berkata tidak. Anak pun merasa diperlakukan tak adil. Semuanya hanya dilihat dari sudut pandang orangtua, tak melalui suatu dialog yang demokratis. Akibatnya, anak frustrasi dan perasaan itu dilampiaskannya dengan cara ngambek.

METODE ANTI KALAH
Harus bagaimanakah kita bersikap? Yang jelas, kita mesti lebih membuka diri, sehingga anak dapat melampiaskan keinginan-keinginannya secara wajar. “Jadilah pendengar yang baik,” anjur Seto. Saat kumpul bersama keluarga, misalnya, ayah dan ibu harus mau mendengar dan menerima permintaan atau keluhan-keluhan anak. Jika anak minta dibelikan buku dan stiker, misalnya, tanyakan padanya, apakah itu sebuah kebutuhan atau keinginan. “Mana yang paling perlu? Buku atau stiker?” Anak pun akhirnya belajar, mana yang penting dan tidak. Kalaupun ia ingin protes, boleh-boleh saja sepanjang diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan bukan tingkah laku ngambek atau membanting pintu.
Tak ada salahnya anak ikut tahu kondisi keuangan ayah dan ibunya sehingga ia tahu persis, orangtua belum bisa memenuhi keinginannya. “Jadi, semuanya harus melalui dialog atau komunikasi,” tandas Seto. Cara lain untuk mengendalikan anak ngambek, adalah metode “anti-kalah” atau musyawarah dalam keluarga. “Tak ada yang kalah atau menang.” Lagi-lagi, dengan cara membuka dialog. Misalnya, “Yuk, kita bicarakan hal ini di rumah. Apa yang kamu mau, akan kita bicarakan dulu. Kalau memang diputuskan untuk dibeli, kita bisa kembali lagi besok.” Alhasil, titik temu yang memuaskan kedua belah pihak pun didapat. “Anak juga sekaligus belajar bahwa ia tak akan berhasil memenuhi keinginannya dengan cara ngambek,” kata Seto.

TENANG DAN KONSISTEN
Seto mengakui, memang bukan pekerjaan mudah mengajak bicara anak kecil yang tengah ngadat. Ia akan melawan, bersikukuh, alias mau menang sendiri. “Makanya, hadapi ia dengan sikap tenang. Kalau kita tampak panik, malu, atau marah-marah, anak malah jadi tambah bertingkah. Tenang, senyum, dan perlihatkan kita tetap menghargainya.
Nah, biasanya ngambeknya akan sedikit lumer,” papar anggota Creative Education Foundation ini. Orangtua bisa berujar, “Ibu tahu kamu kecewa, sedih. Sekarang kita pulang dulu, yuk! Nanti kita bicarakan di rumah. Ibu mau dengar apa maumu.” Lewat ucapan seperti itu, anak tahu, kita mengerti akan kemarahan atau kekecewaannya dan kita bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. “Anak juga akan sadar, ia boleh marah tapi cara marahnya harus baik. Tidak dengan berguling-guling di depan umum. Dari situ ia akan merasa dihargai,” lanjut anggota World Council for Gifted & Talented Children ini. Di sisi lain, anak juga menjadi paham, ayah atau ibunya sudah berubah. Yang biasanya marah-marah, sekarang tak begitu lagi. “Tentunya orangtua harus konsisten dengan ucapannya. Tiba di rumah, ia harus mau mendengarkan keluhan-keluhan anak dan sama-sama mencari pemecahannya,” kata Seto.

BIKIN “PERJANJIAN”
Sikap pasif orangtua saat anaknya ngambek dengan cara membiarkan atau meninggalkan anak, tak terlalu disetujui pakar psikologi anak ini. “Ada kan, orangtua yang begitu. Anaknya dibiarkan dengan harapan kemarahan anak akan reda dengan sendirinya. Padahal, justru sikap seperti itu bisa membuat anak makin kecewa dan frustrasi. Bisa saja ngambeknya kemudian dialihkan di rumah karena masalah utamanya tak diselesaikan,” tutur anggota International Council of Psychologists ini. Padahal, tutur Seto lebih jauh, tak ada salahnya orangtua bersikap sedikit “merendah” dalam arti mau mendengarkan anak. Sebaliknya, orangtua pun harus berani mengungkapkan segala perasannya secara jujur. Kalau ingin marah, ya, kemukakan saja. Misalnya, “Ibu marah, lo, kalau kamu bersikap begini. Ibu kecewa.”

Jika anak tetap sajangambek, berarti masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Bisa saja orangtua belum sadar tentang hak-hak anak. Hak untuk bermain, berpartisipasi, dan didengarkan oleh lingkungannya. “Tidak jadi robot terus!” tukas Seto. Jika ia tak mendapat hak-hak tadi, “Anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya,” tandas peraih penghargaan The Golden Baloon Award, New York ini.

Selain itu, Seto juga menyarankan agar para orangtua bisa mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang rawan konflik. Misalnya, kalau kemungkinan ia akan ngadat saat diajak ke mal, persiapkan sebelumnya. “Mama mau ajak kamu ke mal, tapi janji, hanya boleh minta satu barang saja. Kamu nanti mau minta apa? Stiker atau boneka? Pilih salah satu, tidak boleh lebih dari itu.” Nah, karena si kecil dilibatkan dalam perencanaannya, ia pun biasanya akan menepati janji karena merasa dirinya dihargai. Bisa juga ditambahkan dalam “perjanjian” itu, apa sanksinya jika si kecil ingkar janji. Misalnya, pada kepergian berikut, ia tak boleh ikut lagi.

HUKUMAN DAN PUJIAN
Dengan menegakkan demokrasi di rumah, anak akan terhindar dari rasa frustrasi. Sebab itulah, sejak anak bisa diajak bicara, sebaiknya biasakan diajak bicara. Anak pun akan merasa dihargai. “Kalau ia biasa dihargai, dipercaya, dan egonya diakui, maka ia akan lebih percaya diri dan tidak mudah ngambek,” kata Seto. Perlukah hukuman diberlakukan dalam hal ini? “Bisa saja, tapi bukan dalam bentuk pukulan atau cubitan. Melainkan dalam bentuk tak dipenuhinya keinginan itu. Biasanya ibu senyum, kok, kali ini tidak dan mukanya datar. Itu saja bagi anak yang peka sudah berarti hukuman,” jelas Seto. Namun, jangan lupa pula memberinya pujian jika ia berkelakuan baik dan dapat menghilangkan sifat ngambeknya.

Sumber : tabloid-nakita.com

Selasa, 01 Juli 2014

Adit dan Sopo Jarwo episode 11-18

Film Anak Indonesia  
Adit dan Sopo Jarwo Episode 11-18