Mohon di Baca

Apabila ada yang kesulitan ketika men-DOWNLOAD file, bisa request via email ke muhamad.haidir@gmail.com.

Minggu, 30 Juli 2017

Poster Adab Tidur


DOWNLOAD | 339 Kb

Adik-adik sahabat Muslim Kecil. Apa saja ya, yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ketika hendak tidur dan setelah bangun tidur? Mari kita pelajari bersama dan download posternya.

Sumber : www.muslimkecil.com

Rabu, 21 Juni 2017

10 Menit Pintar Matematika untuk PAUD TK



SINOPSIS:

Buku “10 menit Pintar Matematika” ini adalah cara mudah mendidik anak dalam memahami matematika untuk meningkatkan imajinasi, daya nalar, keterampilan, dan kreativitas anak.

Buku ini diperuntukkan bagi anak usia dini (PAUD) tingkat TK A dan TK B yang disusun secara sistematis, dilengkapi latihan-latihan sederhana yang mudah dipahami, mulai dari mengenal angka 1-10 dan 11-20, penjumlahan, pengurangan, mewarnai, mengenal waktu, dan lain-lain.

Keberhasilan anak mempelajari matematika sangat ditentukan oleh banyak hal, seperti guru atau orangtua yang mengajar dengan cara menyenangkan, suasana belajar yang tidak membosankan, dan tentu saja buku yang berkualitas.

Buku ini disusun sesuai tingkat kemampuan anak.

Disajikan sederhana, mudah dimengerti, dan dilengkapi dengan gambar berwarna agar anak-anak senang belajar matematika.

Anak-anak diajak untuk bermain dengan gambar, mengenal bentuknya, membandingkan ukurannya, hingga menghitung jumlahnya.

Peran orangtua dan guru sangat mempengaruhi keberhasilan anak mempelajari matematika.

Temani buah hati kita mengajarkan matematika dalam suasana yang menyenangkan.

Gunakan selalu cara-cara kreatif seperti menggunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah untuk membantu pemahamannya seperti mengenalkan bentuk, jumlah, ukuran, dan perbandingan.

Selamat Belajar….

 Seri: –
Judul: 10 Menit Pintar Matematika untuk Anak Usia Dini
Kategori: PAUD TK
Ukuran: 19 cm x 26 cm
Penulis: Nurul Ihsan
Ilustrator: Uci Ahmad Sanusi
Desain sampul: Yuyus Rusamsi
Layout isi: Yuyus Rusamsi
Jumlah isi: 64 halaman fullcolor
Format file: PDF
Ukuran file: 12 MB
Usia: PAUD TK
ISBN: 9797575551
Harga buku cetak: Rp 31.000
Harga buku digital (ebook): Gratis
Penerbit: Kawan Pustaka/Wahyu Media Jakarta
Berat buku:
Jenis cover: Soft cover
Himbauan: Membeli buku versi cetaknya
Teks Bahasa: Indonesia
Copyright: Penerbit Kawan Pustaka/Wahyu Media, dan cbmagency.com (studio cbm agency)

Sabtu, 02 Januari 2016

Mengenal Nama-nama Bulan dalam Kalender Hijriyah



E-Book berikut ini adalah Ebook belajar mengenal nama-nama bulan dalam kalender Hijriyah.

Sebagaimana kita mengenal bulan-bulan dalam kalender masehi, harapan kami anak-anak muslim juga mengenal nama-nama bulan dalam Hijriyah

Semoga E-book ini memberi manfaat. Insya Allah.

Jumat, 02 Oktober 2015

Belajar Mengenal dan Menulis Angka 1 sampai 10


E-book ini mengajak putra-putri anda untuk belajar mengenal dan menulis angka 1 (satu) sampai 10 (sepuluh) dan dilengkapi gambar yang bisa diwarnai agar anak tidak bosan. Semoga bermanfaat...
Note: Cetak dikertas berukuran A4


DOWNLOAD



Sumber : raudhatulmuhibbin.org

Selasa, 22 September 2015

Buku Cerita Anak - Kisah Sahabat Kecil Kita Si Semut


Teman-teman pengunjung Blog Syabil,

Tahukah kalian bagainmana terampil dan cerdasnya binatang yang bernama Semut?

Karena hanpir seriap hari dapat kita temui; di rumah, di sekolah, di jalan dikantin, d, lapangan sepak bola dan di banyak tempat lain, diantara kalian mungkin berfikir meraka adalah seekor serangga yang tidak istimewa. Namun nampaknya pandangan kalian itu harus siap-siap berubah manakala mengikuti petualangan Umar yang dikisahkan dalam buku ini.

DOWNLOAD


Sumber:  harunyahya.com


Kamis, 17 September 2015

Buku Cerita Anak Muslim 1 dan 2


Kali ini Syabil mau bagi-bagi buku cerita untuk Anak Muslim yang dibagi menjadi 2 buku dalam bentuk PDF. Menurut Syabil buku ceritanya bagus tapi jangan berharap banyak akan tampilan buku ceritanya ya, karena bukunya sangat sederhana hanya berupa cerita dalam bentuk teks tanpa ada sisipan gambar-gambar. Biasanya anak-anak lebih suka dengan buku cerita yang bergambar. So, nikmatin aja buku ceritanya sambil ditemani oleh Ayah/Bunda (Pegel-pegel dah bacain ceritanya...Wkwkwkwk).

Seluruh buku penulis menjelaskan isu-isu keimanan dalam ayat-ayat Al Quran. Penulis mengundang pembaca untuk mempelajari firman-firman Allah dan melaksanakannya dalam kehidupan.  Seluruh topik berkenaan dengan ayat-ayat Allah dijelaskan sedemikian rupa hingga tidak menyisakan keraguan atau ruang untuk bertanya-tanya dalam benak pembaca. Kesungguhan buku-buku ini, kesederhanaan dan gaya yang fasih, menjamin bahwa siapa pun, berapapun umurnya, apapun kelompok sosialnya, dapat memahami isi buku dengan mudah. Berkat narasi yang efektif dan jelas, buku-buku ini dapat dibaca dalam sekali duduk Bahkan, mereka yang bersikeras menolak spiritualitas, akan  dipengaruhi oleh fakta-fakta yang didokumentasikan buku-buku ini, dan tak dapat menyangkal kebenaran isinya.

DOWNLOAD

Sumber:  harunyahya.com

Kamis, 03 September 2015

Bagaimana Cara Melatih Si Kecil Untuk Tidur Sendiri?, Ini Tipsnya


Ketika masih bayi umumnya anak biasanya memang tidur satu kamar dengan orang tuanya, tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan umur si anak sudah cukup besar maka orang tua biasanya ingin melatih si kecil untuk tidur sendiri di kamarnya. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah sebenarnuya umur berapa anak bisa mulai dilatih untuk tidur terpisah dengan orang tua?

Sebenarnya tidak ada suatu ketentuan yang pasti mengenai kapan waktu yang tepat untuk membiasakan anak untuk tidur sendiri, beberapa orang tua ada yang sudah melatihnya sejak lahir, dan ada juga yang selalu tidur bersama orang tua sejak lahir. Tentunya hal ini semua tergantung pada kebiasaan yang ada pada keluarga tersebut, Namun pada umumnya biasanya usia yang pas untuk melatih anak untuk tidur sendiri adalah pada saat anak sudah berumur 2 tahun.

Melatih anak untuk tidur terpisah sebaiknya Anda lakukan secara perlahan, dan perhatikan juga apakah anak bisa tidur dengan pulas tanpa terbangun di malam hari untuk mencari orang tua. Jika anak sudah tidak terbangun mencari orang tua pada malam hari hal itu menandakan bahwa si anak sudah siap untuk tidur sendiri.

Anda juga harus meyakinkan si anak bahwa tidur sendiri itu tidaklah menyeramkan. Ajak sang anak untuk menghias kamar tidurnya sesuai dengan keinginannya. Lalu selalu jelaskan bahwa walaupun ia tidur terpisah, ia dapat memanggil Anda jika dibutuhkan.

Hal yang paling penting dan harus dipastikan adalah keamanan anak tetap harus terjaga. Selalu cek dan pastikan tidak ada benda tajam yang dapat melukai anak. Atur segala macam kabel listrik dan segala sesuatu yang bisa mengakibatkan kecelakaan, dan jika bisa lokasi kamar si Anak sebaiknya tidak terlalu jauh dengan kamar orang tua sehingga jika terjadi sesuatu orang tua bisa merespon dengan cepat.

Sumber: niagasehat.com

Selasa, 01 September 2015

Mengenalkan Ibadah Haji & Umrah kepada Anak dengan Kartu Haji



Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji, Alhamdulillah sebuah buku kecil untuk muslim kecil 'Mengenal Ibadah Haji dan Umrah' kini dapat Ayah/Bunda berikan kepada anak-anak tercintanya. Buku kecil ini dimaksudkan untuk mengenalkan kepada anak-anak mengenai tata cara ibadah haji secara singkat. 

Dengan buku ini dapat kamu buat di atas kertas 2 lembar kertas karton berukuran folio (F4) secara timal bali, yang kemudian dilipat menyerupai buku tulis. Di dalamnya berisi kantung-kantung yang menunjukkan hari dan tanggal pelaksanaan ibadah haji, beserta kartu-kartu mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan oleh jama'ah haji pada hari itu.

Semoga bermanfaat teman-teman pengunjung Blog Syabil yang akan ikut Manasik Haji di Sekolah PAUD/TK.

Silahkan Download buku kecil Tata Cara Ibadah Haji untuk Anak di bawah ini:
 DOWNLOAD

Sumber: http://bam.raudhatulmuhibbin.org

Minggu, 11 Januari 2015

Ebook Kumpulan Doa-Do'a Anak Shaleh


E-Book berikut ini merupakan kumpulan doa-doa pilihan sesuai Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk diajarkan kepada ana-anak. Berisi lebih dari 20 doa sehari-hari yang disertai ilustrasi untuk menarik perhatian anak.

Apabila Ayah/Bunda mau berkreasi, bisa juga masing-masing Do'a di print berwarna, kemudian digunting, lalu dilaminating supaya terlihat lebih bagus. Misalnya untuk Do'a Berpakaian, bisa di tempelkan di pintu lemari anak, Do'a hendak tidur bisa ditempelkan di dinding yg terdekat dengan kasur anak.

Semoga bermanfaat...

Download Ebook Kumpulan Doa-Do'a Anak Shaleh


Sumber: http://bam.raudhatulmuhibbin.org

Sabtu, 03 Januari 2015

Menyikapi Anak yang sedang Ngambek


Assalamualaikum..salam cerdas kreatif,

Sebagai orang tua, apa yang akan kita lakukan???, bila tiba-tiba anak anda ngambek gara-gara ingin mendapatkan suatu barang yang diinginkannya tidak terpenuhi. Mungkin perasaan anda tidak enak karena pasti orang akan mengira anda tidak becus mengurus anak. Daripada ribut, akhirnya Anda pun mengalah, meluluskan permintaan si kecil.

Menurut psikolog anak, Dr. Seto Mulyadi, orangtua tak perlu malu bila anaknya tiba-tiba bertingkah tak menyenangkan di depan umum. Toh, orang lain pun tahu kalau ini bukan masalah orangtua, tapi masalah anak-anak. “Justru yang perlu diupayakan adalah menenangkan si anak agar tak lebih lama mengganggu ketenangan umum. Dengan tegas, angkatlah ia dan ajak pulang. Pengalaman saya, tatap mata anak dan ajak ia pulang. Jangan tatap anak dengan kesal atau memelototinya, ia akan tahu itu dan akan makin keras mengamuk,” terang Doktor Psikologi lulusan Program Pasca Sarjana UI ini. Kata Seto, lebih baik tatap mata si anak dengan penuh kasih. Ia akan mengerti, ibu atau ayahnya tetap menyayanginya dan permintaannya bisa dibicarakan di rumah.

JADI SENJATA
Yang jelas, wajar jika anak kecil gampang meledak atau ngambek. Terlebih anak usia di atas 2 tahun. Saat itu ia sudah dapat mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau kecemasannya. “Untuk anak yang berusia di bawah 2 tahun, sangat gampang mengalihkannya. Misalnya saat ia ngambek, kita tunjukkan cicak di dinding. Atau tunjukkan ia gambar,” bilang Seto. Lain hal dengan anak usia 2 tahun di mana egonya mulai tumbuh. Ia ingin orang lain mengakui keberadaannya. Dengan cara diam, tak mau berpartisipasi atau berguling- guling, ia ingin orang lain mengerti akan kehadiran “aku”-nya yang baru. Ia pun sangat mementingkan diri sendiri. Apa yang diinginkannya harus dituruti segera dan saat itu juga.
Celakanya, jika perilaku tak baik ini tak ditanggulangi dengan baik, maka akan terus berkembang hingga dewasa. “Itu sebabnya ngambek harus diwaspadai sebagai cikal-bakal berbagai tingkah negatif setelah dewasa kelak. Bisa saja kalau keinginannya tak terpenuhi, lantas minggat dari rumah,” jelas Seto.
Apalagi, anak belajar dari lingkungan. Ia akan belajar bagaimana lingkungan meresponnya. Kalau ia ngambek lalu orangtuanya menuruti kehendaknya, maka ngambek akan dijadikan senjata untuk menarik perhatian “kekuasaan” atau orangtua. Dan tingkat ngambeknya juga akan terus meningkat. Beda jika ia ngambek, masalahnya dicoba dipecahkan. Alhasil, ia tak bisa menggunakan hal itu sebagai senjata. Dengan demikian, jika ia menginginkan sesuatu, ia tak akan ngambek, tapi mengacu pada sistem.

UNGKAPAN PROTES
Yang biasanya terjadi, anak ngambek untuk mengungkapkan protesnya atas kesewenangan orangtua. Terutama pada keluarga yang komunikasinya kurang efektif. Entah karena ayah-ibu yang terlalu sibuk sehingga perhatian pada si kecil sangat kurang, atau karena orangtua terlalu otoriter dan mau menang sendiri. Orangtua selalu memaksakan kehendaknya, sehingga tak pernah mendengar hati nurani anak. “Nah, anak akan merasa diperlakukan tak adil!” tukas Seto. Misalnya saja, pada saat anak minta mainan, orangtua langsung bilang, “Tidak! Mainan kamu sudah terlalu banyak!”
Padahal mungkin saja mainan yang banyak itu dibeli atas inisiatif orangtuanya yang saat membeli, suasana hatinya sedang senang, uang lagi banyak. Padahal, bisa saja si anak sebenarnya sedang tak butuh mainan. Nah, giliran ia memerlukan, justru orangtua berkata tidak. Anak pun merasa diperlakukan tak adil. Semuanya hanya dilihat dari sudut pandang orangtua, tak melalui suatu dialog yang demokratis. Akibatnya, anak frustrasi dan perasaan itu dilampiaskannya dengan cara ngambek.

METODE ANTI KALAH
Harus bagaimanakah kita bersikap? Yang jelas, kita mesti lebih membuka diri, sehingga anak dapat melampiaskan keinginan-keinginannya secara wajar. “Jadilah pendengar yang baik,” anjur Seto. Saat kumpul bersama keluarga, misalnya, ayah dan ibu harus mau mendengar dan menerima permintaan atau keluhan-keluhan anak. Jika anak minta dibelikan buku dan stiker, misalnya, tanyakan padanya, apakah itu sebuah kebutuhan atau keinginan. “Mana yang paling perlu? Buku atau stiker?” Anak pun akhirnya belajar, mana yang penting dan tidak. Kalaupun ia ingin protes, boleh-boleh saja sepanjang diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan bukan tingkah laku ngambek atau membanting pintu.
Tak ada salahnya anak ikut tahu kondisi keuangan ayah dan ibunya sehingga ia tahu persis, orangtua belum bisa memenuhi keinginannya. “Jadi, semuanya harus melalui dialog atau komunikasi,” tandas Seto. Cara lain untuk mengendalikan anak ngambek, adalah metode “anti-kalah” atau musyawarah dalam keluarga. “Tak ada yang kalah atau menang.” Lagi-lagi, dengan cara membuka dialog. Misalnya, “Yuk, kita bicarakan hal ini di rumah. Apa yang kamu mau, akan kita bicarakan dulu. Kalau memang diputuskan untuk dibeli, kita bisa kembali lagi besok.” Alhasil, titik temu yang memuaskan kedua belah pihak pun didapat. “Anak juga sekaligus belajar bahwa ia tak akan berhasil memenuhi keinginannya dengan cara ngambek,” kata Seto.

TENANG DAN KONSISTEN
Seto mengakui, memang bukan pekerjaan mudah mengajak bicara anak kecil yang tengah ngadat. Ia akan melawan, bersikukuh, alias mau menang sendiri. “Makanya, hadapi ia dengan sikap tenang. Kalau kita tampak panik, malu, atau marah-marah, anak malah jadi tambah bertingkah. Tenang, senyum, dan perlihatkan kita tetap menghargainya.
Nah, biasanya ngambeknya akan sedikit lumer,” papar anggota Creative Education Foundation ini. Orangtua bisa berujar, “Ibu tahu kamu kecewa, sedih. Sekarang kita pulang dulu, yuk! Nanti kita bicarakan di rumah. Ibu mau dengar apa maumu.” Lewat ucapan seperti itu, anak tahu, kita mengerti akan kemarahan atau kekecewaannya dan kita bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. “Anak juga akan sadar, ia boleh marah tapi cara marahnya harus baik. Tidak dengan berguling-guling di depan umum. Dari situ ia akan merasa dihargai,” lanjut anggota World Council for Gifted & Talented Children ini. Di sisi lain, anak juga menjadi paham, ayah atau ibunya sudah berubah. Yang biasanya marah-marah, sekarang tak begitu lagi. “Tentunya orangtua harus konsisten dengan ucapannya. Tiba di rumah, ia harus mau mendengarkan keluhan-keluhan anak dan sama-sama mencari pemecahannya,” kata Seto.

BIKIN “PERJANJIAN”
Sikap pasif orangtua saat anaknya ngambek dengan cara membiarkan atau meninggalkan anak, tak terlalu disetujui pakar psikologi anak ini. “Ada kan, orangtua yang begitu. Anaknya dibiarkan dengan harapan kemarahan anak akan reda dengan sendirinya. Padahal, justru sikap seperti itu bisa membuat anak makin kecewa dan frustrasi. Bisa saja ngambeknya kemudian dialihkan di rumah karena masalah utamanya tak diselesaikan,” tutur anggota International Council of Psychologists ini. Padahal, tutur Seto lebih jauh, tak ada salahnya orangtua bersikap sedikit “merendah” dalam arti mau mendengarkan anak. Sebaliknya, orangtua pun harus berani mengungkapkan segala perasannya secara jujur. Kalau ingin marah, ya, kemukakan saja. Misalnya, “Ibu marah, lo, kalau kamu bersikap begini. Ibu kecewa.”

Jika anak tetap sajangambek, berarti masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Bisa saja orangtua belum sadar tentang hak-hak anak. Hak untuk bermain, berpartisipasi, dan didengarkan oleh lingkungannya. “Tidak jadi robot terus!” tukas Seto. Jika ia tak mendapat hak-hak tadi, “Anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya,” tandas peraih penghargaan The Golden Baloon Award, New York ini.

Selain itu, Seto juga menyarankan agar para orangtua bisa mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang rawan konflik. Misalnya, kalau kemungkinan ia akan ngadat saat diajak ke mal, persiapkan sebelumnya. “Mama mau ajak kamu ke mal, tapi janji, hanya boleh minta satu barang saja. Kamu nanti mau minta apa? Stiker atau boneka? Pilih salah satu, tidak boleh lebih dari itu.” Nah, karena si kecil dilibatkan dalam perencanaannya, ia pun biasanya akan menepati janji karena merasa dirinya dihargai. Bisa juga ditambahkan dalam “perjanjian” itu, apa sanksinya jika si kecil ingkar janji. Misalnya, pada kepergian berikut, ia tak boleh ikut lagi.

HUKUMAN DAN PUJIAN
Dengan menegakkan demokrasi di rumah, anak akan terhindar dari rasa frustrasi. Sebab itulah, sejak anak bisa diajak bicara, sebaiknya biasakan diajak bicara. Anak pun akan merasa dihargai. “Kalau ia biasa dihargai, dipercaya, dan egonya diakui, maka ia akan lebih percaya diri dan tidak mudah ngambek,” kata Seto. Perlukah hukuman diberlakukan dalam hal ini? “Bisa saja, tapi bukan dalam bentuk pukulan atau cubitan. Melainkan dalam bentuk tak dipenuhinya keinginan itu. Biasanya ibu senyum, kok, kali ini tidak dan mukanya datar. Itu saja bagi anak yang peka sudah berarti hukuman,” jelas Seto. Namun, jangan lupa pula memberinya pujian jika ia berkelakuan baik dan dapat menghilangkan sifat ngambeknya.

Sumber : tabloid-nakita.com

Selasa, 01 Juli 2014

Adit dan Sopo Jarwo episode 11-18

Film Anak Indonesia  
Adit dan Sopo Jarwo Episode 11-18

Kamis, 10 April 2014

Mengajarkan Anak agar Mudah Meminta Maaf


Berikut 4 langkah sederhana cara membiasakan batita minta maaf:

1. Contoh langsung
Contohkan bagaimana seharusnya kata maaf diucapkan. Misal, orangtua tak sengaja menumpahkan susu anak, katakan, "Maaf ya, Sayang, Mama tidak sengaja menumpahkan susumu." Begitu juga dengan kesalahan lain yang dilakukan. Dengan demikian diharapkan anak terbiasa melihat orang-orang terdekatnya mengucapkan maaf manakala melakukan kesalahan.

2. Tunjukkan penyesalan dengan bahasa tubuh
Lakukan kontak mata saat mengucapkan kata maaf, sehingga anak bisa merasakan penyesalan yang mengiringi permintaan maaf itu. Menggenggam tangan, memeluk erat, atau mencium juga akan dicontoh anak saat orangtua minta maaf dengan bahasa tubuh seperti itu. Namun sebagai catatan, tegaskan padanya bahwa pelukan dan ciuman penyesalan hanya boleh diberikan pada papa/mama/kakak/adik, sedangkan untuk teman/saudara/orang lain cukup dengan bersalaman. Bahasa tubuh juga efektif untuk batita yang komunikasi verbalnya belum lancar sehingga belum bisa mengucapkan kata maaf.

3. Dorong supaya bertanggung jawab
Selain mengucapkan maaf, minta anak untuk "bertanggung jawab" atas kesalahan yang dilakukannya. Umpama, ia menyenggol temannya sampai jatuh. Nah setelah minta maaf, jika temannya terluka, minta si kecil menyodorkan tisu/plester. Ini sebagai bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.

4. Berikan apresiasi
Setelah anak mengucapkan kata maaf, berikan apresiasi dalam bentuk pujian, seperti, "Wah, pintar, kamu sudah bisa minta maaf." Hal tersebut sekaligus sebagai penguatan bahwa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diulanginya lagi di lain kesempatan.

PESAN PENTING
Selain cara, orangtua juga harus mengajarkan kapan kata maaf itu diucapkan, yakni saat menyusahkan orang lain, mencelakai orang lain, melanggar janji, melakukan hal-hal yang sudah dilarang, melakukan hal-hal yang tidak disukai orang lain, dan sebagainya. Dengan begitu, yang ditekankan adalah pesan untuk tidak mengulangi kesalahan, bukan semata-mata minta maaf tanpa mengerti alasannya.

Apa jadinya kalau anak yang bersalah tidak dibiasakan meminta maaf?

* Anak tidak disukai dalam pergaulannya karena tidak biasa minta maaf setelah melakukan kesalahan. Ini akan berakibat pada perkembangan sosialnya. Apalagi kalau sikap masa bodoh ini terbawa sampai usia dewasa.
* Perkembangan emosinya tidak optimal karena dengan tidak mengakui kesalahan, ia tidak bisa menilai dirinya secara pas.

Selasa, 01 April 2014

Adit dan Sopo Jarwo Epsiode-1

Film Anak Indonesia  
Adit dan Sopo Jarwo Episode-1

Kamis, 18 Juli 2013

Ketika Anak Mogok Mengaji

Barangkali anda pernah mengalami hal ini bersama anak atau anak didik anda? Mungkin anda punya jalan keluar yang berbeda dan lebih efektif atau masih bingung dan belum bisa menemukan jalan keluar? Mudah-mudahan pengalaman berikut juga bisa menjadi salah satu masukan bagi kita. Tidak seperti biasanya, sejak kembali dari berlibur ke rumah neneknya di luar kota, Aulia tidak mau lagi mengaji. Yang lebih mengherankan lagi, dia menangis sejadi-jadinya ketika gilirannya membaca iqra tiba, padahal tidak lama lagi dia menamatkan iqra-nya dan bisa pindah ke “Qur’an kecil” seperti yang diidam-idamkannya sejak lama untuk menyusul kakaknya. Kami sampai bingung dibuatnya. Di antara saudara-saudaranya dia yang paling semangat mengaji dan menyuruh kakak adiknya untuk mengaji, bahkan ketilka listrik padam pun dia selalu memaksa dengan lampu emergency. Saya mencoba mengingat-ingat, apa mungkin telah melakukan kesalahan ketika terakhir kali dia membaca iqra. Dibanding dengan kakak dan adiknya yang laki-laki Aulia memang berbeda. Dia lebih sensitif. Dia bisa belajar dengan cepat akan tetapi tidak suka jika dipersalahkan atau disuruh mengulang bacaannya lebih dari tiga kali. Kali ketiga suaranya pasti langsung bergelombang menandakan dia hampir menangis. Kalau sudah begitu acara membaca dihentikan. Mengikuti kejadian itu selama beberapa hari, saya mengira dia trauma akan sesuatu. Karena pada pagi hari dia selalu bilang ingin mengaji, tetapi ketika tiba saatnya dia malah menangis. Segala cara telah kami coba, membujuknya, menjanjikann akan memberikan tanda berwarna yang baru bagi iqranya, karena dia memang menyukai ‘post it’ kecil berwarna warni untuk menandai bacaannya, es krim, bahkan jalan-jalan bermain kereta kesukaan mereka. Semua itu agar dia mau kembali mengaji. Tapi hasilnya nihil. Saya berpikir mungkin saya terlalu keras mengajarinya. Tapi bukannya dia juga mau diajari membaca, bahkan sangat senang karena sudah dapat membaca buku kakaknya meskipun belum benar-benar lancar? Kejadian itu berlangsung beberapa minggu, sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberikan kepadanya buku iqra dan memintanya untuk belajar sendiri di waktu lain. Beberapa saat setelah tenang saya melihat dia mulai memegang bukunya dan mulai membaca. Tapi begitu mengetahui saya memperhatikan dia menghentikannya dengan alasan besok akan mulai lagi. Keesokannya pun begitu dia membaca bukunya ketika tidak ada yang memperhatikan. Hingga pada akhirnya ba’da maghrib dengan diantar ibunya dia datang dan mengatakan siap untuk mengaji. Alhamdulillah, kali ini tidak ada tanda-tanda dia akan menangis. Meskipun hanya mau membaca satu baris saja, namun kami sudah cukup lega, setidaknya dia sudah mau memulai kembali. Keesokan harinya dia berhasil kubujuk untuk membaca empat baris. Begitu selesai, dengan gembira dia melapor ke nenek dan ibunya kalau dia sudah membaca empat baris. Besoknya dia berkata kepada ibunya, agar lain kali jika mereka berlibur buku iqra dan mukena kecilnya dibawa serta agar dia bisa terus membaca sendirian. Rupanya dia menjadi takut mengaji karena takut tidak bisa membaca lagi seperti dulu, karena satu bulan terakhir dia memang lebih sering belajar membaca di buku kakaknya daripada membaca Iqra. Cara yang kami lakukan dengan membiarkan dia belajar sendiri mengulang pelajarannya, terbukti efektif. Ketika mengulang bacaannya sendirian, dia menyadari kalau dia masih bisa membaca dan membangkitkan lagi rasa percaya dirinya bahwa dia tidak akan membuat banyak kesalahan ketikak membaca. Aulia memang berbeda, jika dikoreksi mesti sangat hati-hati karena nyalinya langsung ciut. Hal ini juga menjadi pelajaran buat saya untuk merubah sikap, mungkin selama ini terlalu keras ketika mengajari anak-anak. Semoga berikutnya tidak ada masalah lagi. Apalagi setelah dijelaskan kepada mereka, malaikat senang mendengarkan bacaan orang yang mengaji, sedangkan setan akan bertepuk tangan gembira dengan orang yang tidak mengaji dan menjadi temannya, dia langsung berkata, “Mulai besok Aulia mau ngaji lagi, Aulia tidak mau jadi temannya setan.” Dia menjadi bersemangat kembali seperti dulu, menghitung berapa lembar lagi yang mesti dihabiskannya untuk segera berpindah ke Qur’an kecil. Alhamdulillah...

Sumber: http://bam.raudhatulmuhibbin.org/

Sabtu, 15 Juni 2013

Ebook Anak - 30 Menit Lancar Bicara Bahasa Inggris

Buku ini sangat ringan dan mudah dipelajari seorang anak karena materi pelajaran bahasa inggrisnya bukan tentang rumus present tense, simple present tense atau apalah yang saya juga nggak ngerti. Buku ini langsung melatih anak untuk melakukan percakapan atau istilah kerennya Conversation gitu. Percakapan di dalam buku ini berisi tentang kegiatan anak sehari-hari atau tentang pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan seorang anak dan disertai pula dengan gambar-gambar terkait dengan percakapan, di jamin mudah-mudahan ngga bikin si Dede jadi Jenuh deh. Ayah...Ibu...Bantu si Dede belajar ya...

EBOOK 30 MENIT LANCAR BICARA BAHASA INGGRIS | 1.48 Mb

Senin, 11 Maret 2013

Mendidik Balita jadi Anak Sholeh

Memiliki anak sholeh merupakan dambaan setiap keluarga. Di samping sebagai penerus keturunan, kelak anak sholeh juga akan menjadi investasi di masa yang akan datang. Pada usia dini, seorang anak akan lebih mudah untuk menerima perubahan ketimbang ketika ia telah dewasa. Dan pada usia dini itulah, masa pembentukan jati diri, pola pikir dan watak sang anak sedang berproses.

Dalam masa pembentukan itulah, orangtua hendaknya memberikan perannya secara optimal. Orangtua harus mampu memberikan pengaruh positif kepada sang anak. Isilah kepala, hati dan jiwa anak anak yang sedang dalam proses pembentukan tersebut dengan nilai nilai yang baik. Orang tua harus dapat menjadi filter bagi berbagai unsur negatif yang dapat merusaknya. Jangan sampai sang anak justru memperoleh pengaruh-pengaruh negatif dari luar.

Untuk itu, langkah terbaik untuk menjadikan seorang anak menjadi sholeh/sholehah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif. Anda dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada diri dan anak anda sejak dini:

1.Bangunkan shubuh sejak balita
Bangun pada waktu shubuh adalah sebuah aktivitas yang sangat berat bagi orang-orang yang tidak biasa untuk melakukannya. Untuk itu, membiasakan membangunkan anak pada waktu shubuh sejak balita adalah langkah terbaik untuk menjadikannya sebagai sebagai sebuah kebiasaan.

2.Berikan lingkungang pergaulan dan pendidikan yang islami
Lingkungan dan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Maka, dalam hal ini anda dapat memulainya dengan mengirimkan anak anda ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) atau mengikuti kursus-kursus islam di Masjid dan sebagainya.

3.Jangan egois!
Orang tua adalah teladan yang pertama bagi anaknya, maka jadilah teladan yang terbaik bagi anak anda. Jangan bersikap egois. Jangan hanya memerintahkan anak anda untuk mengaji atau pergi sholat berjamaah, sedangkan anda tidak melakukannya. Karena hal tersebut akan menimbulkan pembangkangan kepada anak, minimal secara kejiwaan.

4.Safari Masjid
Bawalah anak anda untuk melakukan safari masjid minimal sepekan sekali. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap masjid dan sholat berjamaah dihati anak.

5.Perkenalkan batasan aurat sejak dini
Umumnya, cara berpakaian kita saat ini adalah kebiasaan yang sudah kita bawa sejak kecil. Seorang anak dibiasakan menggunakan pakaian yang ketat, dibiasakan berpakaian tanpa jilbab, maka hal tersebut akan terbawa hingga remaja dan dewasa. Kebiasaan ini akan sangat sulit sekali untuk merubahnya. Dengan alasan gerah, panas, nggak nyaman, ribet, nggak gaul, nggak PD, dan dengan seribu alasan lainnya mereka akan menolak penggunaan pakaian yang menutup aurat.

Jika kita memperkenalkan batasan aurat kepada anak kita dan membiasakannya untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat sejak dini, insya Allah keadaannya akan berbalik. Ia akan merasa berdosa, malu, nggak nyaman, bersalah, dan menolak untuk beralih ke pakaian-pakaian yang tidak menurut aurat. Ia akan berpikir seribu kali, bahkan tidak terpikir sekalipun dan sedikitpun untuk melakukannya.

6.Selalu membawa perlengkapan sholat
Ajarkan kepada anak untuk selalu membawa perlengkapan sholat kemanapun mereka pergi sekiranya akan melewati masuknya waktu sholat.

7.Meminimalisir mendengarkan musik-musik non islami
Minimalisir mendengarkan lagu-lagu non islami seperti lagu-lagu picisan, rock, barat, dan lain-lain. Maksimalkan membaca AL Quran berjamaah, mendengarkan kaset mu’rotal, mendengarkan kaset ceramah atau nasyid islam.

8.Buatlah jadwal nonton TV
Hendaknya, orang tua tidak membiasakan menonton acara TV bersama anak yang tidak mengandung unsur pendidikan kepada anak, misalnya sinetron, film horor, film-film cengeng (romantika), dan lain-lain.

9.Ajarkan nilai-nilai islam secara langsung
Ajarkan nilai-nilai islam yang anda kuasai secara langsung kepada anak anda sejak dini. Sampaikan dengan bahasa-bahasa yang menarik, misalnya melalui sebuah cerita.

10.Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran
Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran, sesuai dengan kadar kemampuan si anak. Hubungkan hadits dan ayat Al Quran ketika kita memberikan nasihat atau teguran mengenai perilakunya sehari-hari.

11.Jadilah sahabat setia baginya
Perkecil menunjukkan sikap menggurui kepada anak, bersikaplah sebagai seorang sahabat dekatnya. Jadilah tempat curhat yang nyaman, sehingga permasalahan anak tidak akan disampaikan kepada orang yang salah, yang akhirnya akan memberikan solusi yang salah pula.

12.Ciptakan nuansa kehangatan
Nuansa hangat dan harmonis dalam keluarga akan memberikan kenyamanan bagi seluruh anggotanya, termasuk anak. Hal ini akan memperkecil masuknya pengaruh buruk dari luar kepada anak. Ia tidak akan mencari tempat diluar sana yang ia anggap lebih nyaman dari pada di rumahnya sendiri.

13.Sampaikan dengan dengan bijak, sabar, dan tanpa bosan
Ingat! Yang sedang anda bentuk adalah makhluk bernyawa, bukan makhluk yang tidak bernyawa. Maka sampaikan semuanya dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, dan jangan pernah merasa bosan untuk mengulangnya. Jangan menggunakan kekerasan, dan hindari emosi yang akan membuat anak sakit hati.

Senin, 26 Maret 2012

Download Ebook Anak Anda Tertular Virus Membaca


A. SINOPSIS Buku Agar Anak Anda Tertular Virus Membaca

Salah satu keinginan terbesar bagi para orang tua adalah melihat anak-anaknya bisa segera membaca bahkan gemar membaca. Bisa membaca dan gemar membaca jelas berbeda. Dibutuhkan suatu usaha bagi para orang tua agar kebiasaan membaca menjadi hal yang mengasyikan bagi anak sehingga menumbuhkan rasa gemar dan cinta anak pada buku hingga dewasa nanti.

Seperti judul pada buku ini "Agar Anak Anda Tertular Virus Membaca", Paul Jennings secara praktis mengajak para orang tua untuk menularkan virus membaca dan bagaimana sejak dini anak-anak dapat asyik, bergairah dan cinta terhadap buku. Pilihan kata virus sebagai terjemahan bug dalam judul terjemahan buku ini sangatlah tepat. Hernowo dalam kata pengantarnya menjelaskan, semestinya judul buku ini mengikuti judul buku aslinya, The Reading Bug and How You Can Help Your Child to Catch It menggunakan frasa "kutu buku", namun frasa ini bagi masyarakat Indonesia sering ditafsirkan sebagai sesuatu yang dingin, berkacamata tebal dan tidak gaul. Karena itu pilihan mengganti frasa kutu buku menjadi virus sangatlah tepat dan menarik perhatian orang tua atau para pendidik untuk membangkitkan semangat menularkan virus membaca pada anak-anaknya.

Jennings membedakan antara bisa membaca dan gemar membaca, ia menekankan keteladanan orang tua adalah hal yang penting dalam membuat anak gemar membaca.. Orang tua sebenarnya telah memiliki bahan utama untuk mulai menularkan virus membaca. Orang tua mencintai anak-anaknya, dan anak-anak senang dicintai. Inilah intinya. Cinta adalah fondasi utamanya. Jika kita ingin anak-anak gemar membaca, kita harus menanamkan kecintaan terhadap buku. Guru di sekolah memang bisa mengajarkan anak membaca, namun orang tua tetaplah orang yang paling tepat untuk menumbuhkan minat membaca anak. Orang tua dapat menumbuhkan keasyikan membaca setiap harinya. Membacakan atau membaca bersama anak adalah ungkapan cinta.

Paul Jennings dalam buku ini membagikan tips-tips dan pandangan-pandangan baru agar para orang tua bisa menularkan virus membaca bagi anak-anaknya; beberapa tips yang terdapat dalam buku ini antara lain :

Membacakan buku untuk anak, menurut Jennings momen-momen ketika orang tua membacakan buku bagi anak-anak adalah salah satu hal yang paling berharga yang dapat kita lakukan bagi mereka Manfaatnya akan sangat besar karena hal ini akan menciptakan hubungan cinta antara orang tua dan anak. Ungkapan cinta ini akan membentuk asosiasi antara anak dan buku. Kata buku membangkitkan kebahagiaan. Meraba, melihat, dan mencium bau buku selamanya terkait dengan kehangatan, rasa aman, dan cinta. Anda telah menyemaikan hubungan cinta sepanjang hayat antara anak dan membaca (hlm 39) Selain itu membacakan buku pada anak tidak hanya membangkitkan kecintaan terhadap buku, melainkan membiasakan bahasa mereka dengan bahasa buku, sehingga kelak anak-anak akan siap dengan struktur kalimat sebuah buku jika ia bisa membaca sendiri.

Hal kedua adalah menjodohkan anak dengan buku. Memang tak mudah memilih buku yang menarik untuk anak-anak, Jennings menyarankan agar orang tua kritis terhadap minat anaknya akan berbagai hal, jika suka mobil balap, belikan buku-buku mengenai mobil balap, jika senang memasak, belikan buku-buku resep. Jika senang komik, tak ada buruknya dengan komik. Fakta bahwa komik mudah dibaca merupakan kelebihan, bukan kekurangan. Selain itu fisik buku pun berpengaruh pada minat membaca anak. Jika dari covernya saja sebuah buku tampak sulit dan tidak menarik, anak-anak tidak akan mau mencoba membacanya.

Dalam hal memilih isi cerita, disrankan agar memilihkan buku-buku yang tercipta dari lubuk hati sang penulis karena desakan kebutuhan untuk menceritakan sebuah kisah. Jangan tertipu oleh bacaan-bacaan pelajaran yang ditulis hanya untuk menjaga kosakata karena biasanya certianya menjadi kaku dan tidak menarik. Disarankan juga agar sesekali anak-anak diberi kebebasan untuk memilih bukunya sendiri. Jika ternyata buku pilihan mereka sulit, orang tualah yang akan membacakannya untuk mereka.

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah uraian mengenai membaca makna. Jennings menyarankan agar para orang tua tak perlu memaksakan anaknya yang sudah bisa membaca untuk berusaha keras membaca kata per kata, terutama pada kata-kata yang sulit. Misalnya kata margarin pada kalimat "Anak itu mengoleskan margarin dan menaburkan gula pada sepotong roti" adalah kata yang sulit dibaca, dan anak mungkin membuat kesalahan dengan menyebutnya mentega. Sebaiknya, biarkan saja anak membaca terus, tak perlu mengoreksinya karena si anak telah membuat perkiraan yang tepat berdasarkan makna dan barangkali menggunakan huruf pertama sebagai petunjuk. Artinya anak ini membaca untuk makna.

Jika orang tua memintanya berhenti, mengoreksinya, memintanya untuk mengulanginya dan melafalkannya dengan tepat mungkin saja si anak menjadi frustasi dan merusak suasana keasyikan membaca. Membiarkan anak menggunakan konteks untuk memperkirakan makna dalam hal ini lebih berguna daripada membunyikan huruf-huruf. Kata mentega adalah tebakan yang masuk akal. Orang tua mengoreksinya jika tebakan katanya diluar konteks bacaannya dan terasa tidak masuk akal.

Masih banyak hal-hal menarik dalam buku ini, Jennings tidak hanya memberikan teknik-teknik membaca pada anak-anak, namun ia juga menekankan pentingnya orang tua agar bisa menularkan rasa cinta, rasa asyik, dan menciptakan sikap kerajingan membaca, karena teknik membaca saja tidak bisa menularkan rasa cinta membaca pada anak-anak. Selain itu pendekatan-pendekatan baru juga akan kita temui dalam buku ini sehingga para orang tua akan diajak untuk memilih dan merancang pendekatan-pendekatan apa yang yang akan dilakukannya untuk membangkitkan minat baca pada anak-anaknya sejak dini.

Pada bab 12, buku ini juga menyertakan daftar buku-buku yang disarankan oleh Jennings. Selain judul-judul dan sedikit sinopsisnya, Jennings juga mengkategorikan buku-buku tersebut berdasarkan tingkat usia sehingga memudahkan pembaca memilihkan buku-buku untuk anaknya. Namun sayangnya minimnya buku-buku anak di Indonesia yang cocok dengan kriteria Jennings baik itu terjemahan maupun karya lokal membuat banyak judul-judul buku tersebut sulit kita temui di toko-toko buku.

Rasanya buku karya Paul Jennings ini akan lebih cocok diadaptasi (bukan diterjemahkan) oleh penulis lokal sehingga contoh-contoh bukunya dapat dengan mudah dicari oleh pembacanya dan kasus-kasus membaca yang diutarakan Jennings dapat disesuaikan dengan kondisi keluarga dan kebiasaan membaca di Indonesia.

Namun usaha untuk menerjemahkan buku ini kedalam bahasa indonesia patut dihargai setinggi-tingginya karena buku yang ditulis dengan bahasa yang jernih dan berhasil diterjemahannnya dengan baik dan disertai gambar-gambar yang jenaka tentunya akan membangkitkan kepedulian setiap orang (terutama orang tua dan guru) untuk membuat anak-anak terjangkit virus membaca sehingga menjadi ‘tegila-gila" membaca dan menumbuhkan generasi baru manusia Indonesia yang tidak hanya bisa membaca namun gemar membaca.


Judul : Agar Anak Anda Tertular Virus Membaca
Tebal : 39 Halaman
Penulis : Paul Jennings
DOWNLOAD

Sumber : http://bukukeluargaislam.blogspot.com

Sabtu, 24 Maret 2012

Menanamkan Rasa Cinta Lingkungan Kepada Anak

Mengajak anak cinta lingkungan secara tidak langsung telah menanamkan rasa cinta dan pentingnya menghargai lingkungan hidup. Kebiasaan ramah lingkungan yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat menjadi gaya hidup anak di usia dewasa. Bagaimana cara mengajak dan menanamkan cinta lingkungan pada anak?. Berikut beberapa tips sederhana yang bisa dipraktekkan di rumah.

1. Matikan TV
TV, game player, dan aneka peralatan elektronik membutuhkan konsumsi listrik yang besar. Ajari anak-anak untuk mematikan dan mencabut gadget elektronik setelah menggunakan peralatan tersebut untuk mengajari mereka hemat energi. Kurangi aktifitas anak pada alat-alat tersebut. Gantilah dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan lain semisal membaca, bersepeda, membuat kerajinan, dan berbagai kegiatan di luar rumah yang membuat anak tetap aktif secara fisik dan melatih imajinasi mereka. 

2. Hemat Air
Mengajari anak untuk menghemat air bisa ditanamkan dengan membiasakan menutup keran air, atau menggunakan gelas ketika sedang menyikat gigi. Begitu juga saat anak mandi, batasi air yang digunakan.

3. Ajak Berkebun
Mengajak anak berkebun atau memelihara taman selain menyehatkan juga menanamkan rasa cinta pada lingkungan. Jika tidak memiliki ruang untuk membuat taman, coba siasati dengan membuat taman mungil di beranda atau teras sekalipun dengan pot.

4. Daur Ulang Barang
Mendaur ulang sampah rumah tangga bisa dilakukan dengan mengajak serta si kecil. Selain itu menangani sampah tanpa proses penghancuran (repurposing) akan bagus lagi. Caranya, misalnya, ajari anak-anak untuk menyumbangkan barang-barang bekas seperti buku dan mainan, yang kondisinya masih baik, untuk tetangga atau kegiatan amal.

5. Rekreasi ke Alam
Mengajak anak melihat obyek-obyek wisata alam akan sangat berpengaruh dalam sikap menghargai kekayaan alam dan lingkungan hidup. Jika lantaran keterbatasan waktu yang tidak memungkinkan, melakukan jalan-jalan di sekitar rumah untuk mengenalkan lingkungan yang asri maupun sebaliknya yang kotor, bisa dilakukan sesering mungkin.

6. Jadilah Panutan Bagi Anak
Point terakhir ini yang sangat penting. Agar anak mempunyai sikap menghargai dan mencintai lingkungan tentunya tidak bisa dipisahkan dari sikap dan perilaku orang tuanya. Akan percuma, meskipun kita berteriak-teriak meminta anak mencintai lingkungan tetapi perilaku kita sendiri tidak. Tips mengajak anak cinta lingkungan ini bukan hanya untuk ibu dan bapak yang telah mempunyai anak. Yang belum pun bisa. Karena tips ini bisa dipraktekkan kepada adik, keponakan, atau mungkin anak mantan pacar sekalipun. 

Sumber: kosmo.vivanews.com
gambar: forkids.ca

Kamis, 22 Maret 2012

Download Ebook Buku Aktivitas Anak Cerdas By Tim Orange Picture

Kecerdasan anak sebenarnya bisa dilatih melalui berbagai kegiatan, tentunya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. Melalui buku aktivitas ini, orang tua bisa mengajak dan melatih putra-putrinya membaca, menulis, menghitung dan mewarnai. Seluruh kegiatan belajar tersebut dikemas dalam berbagai aktivitas yang kerap dilakukan di sekolah. Jadi, buah hati anda pun bisa mengetahui kehidupan di lingkungan sekolah.

Download Ebook Buku Aktivitas Anak Cerdas By Tim Orange Picture

Kamis, 16 Februari 2012

Tanda-tanda Anak Berbakat

Menurut pakar psikologi pendidikan, Prof. Dr. S.C. Utami Munandar, anak berbakat berbeda dengan anak pintar. “Bakat berarti punya potensi. Sedangkan pintar bisa didapat dari tekun mempelajari sesuatu,” jelasnya. Tapi meski tekun namun tak berpotensi, seseorang tak akan bisa optimal seperti halnya anak berbakat. “Kalau anak tak berbakat musikal, misalnya. Biar dikursuskan musik sehebat apa pun, ya, kemampuannya sebegitu-begitu saja. Tak akan berkembang.” “Sebaliknya, jika anak berbakat tapi lingkungannya tak menunjang, ia pun tak akan berkembang.” Soal bakat musik tadi, misalnya. Jika di rumah tak ada alat-alat musik, bakatnya akan terpendam,” jelas guru besar tetap Fakultas Psikologi UI ini. Pada anak hiperaktif, jelasnya,”Konsentrasinya kurang terfokus. Jadi, hanya gerak fisiknya yang aktif tapi tak menunjukkan kelincahan intelektual. Aktivitasnya pun sering tanpa tujuan.” Kendati dia suka bertanya, tapi tak berkonsentrasi pada jawabannya. Konsentrasinya mudah buyar jika ada hal lain yang menarik perhatiannya. Lain hal dengan anak berbakat. “Jika ia lari ke sana-sini, pasti ada tujuannya. Jika ia tertarik pada sesuatu, ia akan duduk diam dalam waktu yang lama, asyik sendiri mengerjakan sesuatu,” terang Ketua Yayasan Indonesia untuk Pendidikan dan Pengembangan Anak Berbakat ini. Bakat anak, lanjut Utami, berkaitan dengan kerja belahan otak kiri dan kanan. Belahan otak kanan berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, intuisi. Sedangkan belahan yang kiri untuk kecerdasan. Nah, anak berbakat umumnya menunjukkan IQ di atas rata-rata, yaitu minimal 130. “Namun tak berarti anak dengan IQ rata-rata, yaitu 90-110, tak akan berbakat,” tukas Utami. Anggapan orang bahwa IQ menetap seumur hidup, menurutnya, sama sekali tak benar. “Ada, kok, anak yang sebelumnya ber-IQ di bawah rata-rata, tapi dengan stimulasi dan pendekatan yang baik bisa berubah jadi di atas rata-rata,” paparnya. Tapi IQ bukan satu-satunya yang menentukan seorang anak disebut berbakat atau tidak. Masih ada faktor lain lagi, yaitu CQ atau kreativitas, yang juga harus di atas rata-rata, minimal 250. Selain itu, tambah Utami, “Ia juga harus memiliki task commitment, yakni kemampuan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi. Jadi, ada keinginan dan ketekunan untuk menyelesaikan sesuatu.” Nah, untuk mendeteksi apakah seorang anak berbakat atau tidak, menurut Utami, bisa dilihat dari perkembangan motoriknya. Anak berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak biasa. Entah dalam berbicara, berjalan, maupun membaca. Misalnya, umur 9 bulan sudah bisa jalan (normalnya, usia 12,5 bulan). Selain itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna. Untuk kemampuan membaca, kadang anak berbakat memperolehnya dari belajar sendiri. Yaitu dari mengamati dan menghubung-hubungkan. Misalnya dari memperhatikan lalu-lintas, teve, atau buku. Anak berbakat juga senang bereksplorasi atau menjajaki. “Jadi, kalau ia mempreteli barang-barang, bukan karena dia nakal tapi karena rasa ingin tahunya,” terang Utami. Tentang rasa ingin tahu yang tinggi ini, terangnya lebih lanjut, memang pada umumnya dimiliki anak kecil. Hanya, pada anak berbakat, cara mengamatinya lebih kental dibanding anak-anak biasa. Hal lain yang menjadi karakteristik anak berbakat ialah bicaranya bisa sangat serius. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga. Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain.

Sumber : www.orangtua.org